Pengumpan:
Tulisan
Komentar

Panduan Berhubungan Intim Dalam Perspektif Islam

Oleh : Abu Umar Baasyir

Sebagai bagian dari fitrah kemanusiaan, Islam tidak pernah memberangus hasrat seksual. Islam memberikan panduan lengkap agar seks bisa tetap dinikmati seorang muslim tanpa harus kehilangan ritme ibadahnya.

Bulan Syawal, bagi umat Islam Indonesia, bisa dibilang sebagai musim kawin. Anggapan ini tentu bukan tanpa alasan. Kalangan santri dan muhibbin biasanya memang memilih bulan tersebut sebagai waktu untuk melangsungkan aqad nikah.

Kebiasaan tersebut tidak lepas dari anjuran para ulama yang bersumber dari ungkapan Sayyidatina Aisyah binti Abu Bakar Shiddiq yang dinikahi Baginda Nabi pada bulan Syawwal. Ia berkomentar,
“Sesungguhnya pernikahan di bulan Syawwal itu penuh keberkahan dan mengandung banyak kebaikan.”
Namun, untuk menggapai kebahagiaan sejati dalam rumah tangga tentu saja tidak cukup dengan menikah di bulan Syawwal. Ada banyak hal yang perlu dipelajari dan diamalkan secara seksama oleh pasangan suami istri agar meraih ketentraman (sakinah), cinta (mawaddah) dan kasih sayang (rahmah), baik lahir maupun batin. Salah satunya –dan yang paling penting– adalah persoalan hubungan intim atau dalam bahasa fiqih disebut jima’.

Sebagai salah tujuan dilaksanakannya nikah, hubungan intim –menurut Islam– termasuk salah satu ibadah yang sangat dianjurkan agama dan mengandung nilai pahala yang sangat besar. Karena jima’ dalam ikatan nikah adalah jalan halal yang disediakan Allah untuk melampiaskan hasrat biologis insani dan menyambung keturunan bani Adam.

Selain itu jima’ yang halal juga merupakan iabadah yang berpahala besar. Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Dalam kemaluanmu itu ada sedekah.” Sahabat lalu bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah kita mendapat pahala dengan menggauli istri kita?.” Rasulullah menjawab, “Bukankah jika kalian menyalurkan nafsu di jalan yang haram akan berdosa? Maka begitu juga sebaliknya, bila disalurkan di jalan yang halal, kalian akan berpahala.” (HR. Bukhari, Abu Dawud dan Ibnu Khuzaimah)

Karena bertujuan mulia dan bernilai ibadah itu lah setiap hubungan seks dalam rumah tangga harus bertujuan dan dilakukan secara Islami, yakni sesuai dengan tuntunan Al-Quran dan sunah Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi Wasallam.

Hubungan intim, menurut Ibnu Qayyim Al-Jauzi dalam Ath-Thibbun Nabawi (Pengobatan ala Nabi), sesuai dengan petunjuk Rasulullah memiliki tiga tujuan: memelihara keturunan dan keberlangsungan umat manusia, mengeluarkan cairan yang bila mendekam di dalam tubuh akan berbahaya, dan meraih kenikmatan yang dianugerahkan Allah.

Ulama salaf mengajarkan, “Seseorang hendaknya menjaga tiga hal pada dirinya: Jangan sampai tidak berjalan kaki, agar jika suatu saat harus melakukannya tidak akan mengalami kesulitan; Jangan sampai tidak makan, agar usus tidak menyempit; dan jangan sampai meninggalkan hubungan seks, karena air sumur saja bila tidak digunakan akan kering sendiri.

Wajahnya Muram

Muhammad bin Zakariya menambahkan, “Barangsiapa yang tidak bersetubuh dalam waktu lama, kekuatan organ tubuhnya akan melemah, syarafnya akan menegang dan pembuluh darahnya akan tersumbat. Saya juga melihat orang yang sengaja tidak melakukan jima’ dengan niat membujang, tubuhnya menjadi dingin dan wajahnya muram.”

Sedangkan di antara manfaat bersetubuh dalam pernikahan, menurut Ibnu Qayyim, adalah terjaganya pandangan mata dan kesucian diri serta hati dari perbuatan haram. Jima’ juga bermanfaat terhadap kesehatan psikis pelakunya, melalui kenikmatan tiada tara yang dihasilkannya.
Puncak kenikmatan bersetubuh tersebut dinamakan orgasme atau faragh. Meski tidak semua hubungan seks pasti berujung faragh, tetapi upaya optimal pencapaian faragh yang adil hukumnya wajib. Yang dimaksud faragj yang adil adalah orgasme yang bisa dirasakan oleh kedua belah pihak, yakni suami dan istri.

Mengapa wajib? Karena faragh bersama merupakan salah satu unsur penting dalam mencapai tujuan pernikahan yakni sakinah, mawaddah dan rahmah. Ketidakpuasan salah satu pihak dalam jima’, jika dibiarkan berlarut-larut, dikhawatirkan akan mendatangkan madharat yang lebih besar, yakni perselingkuhan. Maka, sesuai dengan prinsip dasar islam, la dharara wa la dhirar (tidak berbahaya dan membahayakan), segala upaya mencegah hal-hal yang membahayakan pernikahan yang sah hukumnya juga wajib.

Namun, kepuasan yang wajib diupayakan dalam jima’ adalah kepuasan yang berada dalam batas kewajaran manusia, adat dan agama. Tidak dibenarkan menggunakan dalih meraih kepuasan untuk melakukan praktik-praktik seks menyimpang, seperti sodomi (liwath) yang secara medis telah terbukti berbahaya. Atau penggunaan kekerasaan dalam aktivitas seks (mashokisme), baik secara fisik maupun mental, yang belakangan kerap terjadi.
Maka, sesuai dengan kaidah ushul fiqih “ma la yatimmul wajibu illa bihi fahuwa wajibun” (sesuatu yang menjadi syarat kesempurnaan perkara wajib, hukumnya juga wajib), mengenal dan mempelajari unsur-unsur yang bisa mengantarkan jima’ kepada faragh juga hukumnya wajib.Bagi kaum laki-laki, tanda tercapainya faragh sangat jelas yakni ketika jima’ sudah mencapai fase ejakulasi atau keluar mani. Namun tidak demikian halnya dengan kaum hawa’ yang kebanyakan bertipe “terlambat panas”, atau –bahkan— tidak mudah panas. Untuk itulah diperlukan berbagai strategi mempercepatnya.
Dan, salah satu unsur terpenting dari strategi pencapaian faragh adalah pendahuluan atau pemanasan yang dalam bahasa asing disebut foreplay (isti’adah). Pemanasan yang cukup dan akurat, menurut para pakar seksologi, akan mempercepat wanita mencapai faragh.
Karena dianggap amat penting, pemanasan sebelum berjima’ juga diperintahkan Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi Wasallam. Beliau bersabda,
“Janganlah salah seorang di antara kalian menggauli istrinya seperti binatang. Hendaklah ia terlebih dahulu memberikan pendahuluan, yakni ciuman dan cumbu rayu.” (HR. At-Tirmidzi).
Ciuman dalam hadits diatas tentu saja dalam makna yang sebenarnya. Bahkan, Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi Wasallam, diceritakan dalam Sunan Abu Dawud, mencium bibir Aisyah dan mengulum lidahnya. Dua hadits tersebut sekaligus mendudukan ciuman antar suami istri sebagai sebuah kesunahan sebelum berjima’.

Ketika Jabir menikahi seorang janda, Rasulullah bertanya kepadanya, “Mengapa engkau tidak menikahi seorang gadis sehingga kalian bisa saling bercanda ria? …yang dapat saling mengigit bibir denganmu.” HR. Bukhari (nomor 5079) dan Muslim (II:1087).

Bau Mulut

Karena itu, pasangan suami istri hendaknya sangat memperhatikan segala unsur yang menyempurnakan fase ciuman. Baik dengan menguasai tehnik dan trik berciuman yang baik, maupun kebersihan dan kesehatan organ tubuh yang akan dipakai berciuman. Karena bisa jadi, bukannya menaikkan suhu jima’, bau mulut yang tidak segar justru akan menurunkan semangat dan hasrat pasangan.

Sedangkan rayuan yang dimaksud di atas adalah semua ucapan yang dapat memikat pasangan, menambah kemesraan dan merangsang gairah berjima’. Dalam istilah fiqih kalimat-kalimat rayuan yang merangsang disebut rafats, yang tentu saja haram diucapkan kepada selain istrinya.
Selain ciuman dan rayuan, unsur penting lain dalam pemanasan adalah sentuhan mesra. Bagi pasangan suami istri, seluruh bagian tubuh adalah obyek yang halal untuk disentuh, termasuk kemaluan. Terlebih jika dimaksudkan sebagai penyemangat jima’. Demikian Ibnu Taymiyyah berpendapat.
Syaikh Nashirudin Al-Albani, mengutip perkataan Ibnu Urwah Al-Hanbali dalam kitabnya yang masih berbentuk manuskrip, Al-Kawakbu Ad-Durari,

“Diperbolehkan bagi suami istri untuk melihat dan meraba seluruh lekuk tubuh pasangannya, termasuk kemaluan. Karena kemaluan merupakan bagian tubuh yang boleh dinikmati dalam bercumbu, tentu boleh pula dilihat dan diraba. Diambil dari pandangan Imam Malik dan ulama lainnya.”
Berkat kebesaran Allah, setiap bagian tubuh manusia memiliki kepekaan dan rasa yang berbeda saat disentuh atau dipandangi. Maka, untuk menambah kualitas jima’, suami istri diperbolehkan pula menanggalkan seluruh pakaiannya. Dari Aisyah RA, ia menceritakan, “Aku pernah mandi bersama Rasulullah dalm satu bejana…” (HR. Bukhari dan Muslim).

Untuk mendapatkan hasil sentuhan yang optimal, seyogyanya suami istri mengetahui dengan baik titik-titik yang mudah membangkitkan gairah pasangan masing-masing. Maka diperlukan sebuah komunikasi terbuka dan santai antara pasangan suami istri, untuk menemukan titik-titik tersebut, agar menghasilkan efek yang maksimal saat berjima’.

Diperbolehkan bagi pasangan suami istri yang tengah berjima’ untuk mendesah. Karena desahan adalah bagian dari meningkatkan gairah. Imam As-Suyuthi meriwayatkan, ada seorang qadhi yang menggauli istrinya. Tiba-tiba sang istri meliuk dan mendesah. Sang qadhi pun menegurnya. Namun tatkala keesokan harinya sang qadhi mendatangi istrinya ia justru berkata, “Lakukan seperti yang kemarin.”
Satu hal lagi yang menambah kenikmatan dalam hubungan intim suami istri, yaitu posisi bersetubuh. Kebetulan Islam sendiri memberikan kebebasan seluas-luasnya kepada pemeluknya untuk mencoba berbagai variasi posisi dalam berhubungan seks. Satu-satunya ketentuan yang diatur syariat hanyalah, semua posisi seks itu tetap dilakukan pada satu jalan, yaitu farji. Bukan yang lainnya.

Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

“Istri-istrimu adalah tempat bercocok tanammu, datangilah ia dari arah manapun yang kalian kehendaki.” QS. Al-Baqarah (2:223).

Posisi Ijba’

Menurut ahli tafsir, ayat ini turun sehubungan dengan kejadian di Madinah. Suatu ketika beberapa wanita Madinah yang menikah dengan kaum muhajirin mengadu kepada Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi Wasallam, karena suami-suami mereka ingin melakukan hubungan seks dalam posisi ijba’ atau tajbiyah. Ijba adalah posisi seks dimana lelaki mendatangi farji perempuan dari arah belakang. Yang menjadi persoalan, para wanita Madinah itu pernah mendengar perempuan-perempuan Yahudi mengatakan, barangsiapa yang berjima’ dengan cara ijba’ maka anaknya kelak akan bermata juling. Lalu turunlah ayat tersebut.

Terkait dengan ayat 233 Surah Al-Baqarah itu Imam Nawawi menjelaskan, “Ayat tersebut menunjukan diperbolehkannya menyetubuhi wanita dari depan atau belakang, dengan cara menindih atau bertelungkup. Adapun menyetubuhi melalui dubur tidak diperbolehkan, karena itu bukan lokasi bercocok tanam.” Bercocok tanam yang dimaksud adalah berketurunan.
Muhammad Syamsul Haqqil Azhim Abadi dalam ‘Aunul Ma’bud menambahkan, “Kata ladang (hartsun) yang disebut dalam Al-Quran menunjukkan, wanita boleh digauli dengan cara apapun : berbaring, berdiri atau duduk, dan menghadap atau membelakangi..”
Demikianlah, Islam, sebagai agama rahmatan lil ‘alamin, lagi-lagi terbukti memiliki ajaran yang sangat lengkap dan seksama dalam membimbing umatnya mengarungi samudera kehidupan. Semua sisi dan potensi kehidupan dikupas tuntas serta diberi tuntunan yang detail, agar umatnya bisa tetap bersyariat seraya menjalani fitrah kemanusiannya.

Sumber : Sutra Ungu, Panduan Berhubungan Intim Dalam Perspektif Islam, karya Abu Umar Baasyir

http://ummuvanessa.multiply.com

Banyak yang bertanya, sesungguhnya posisi manakah yang paling banyak mendatangkan kepuasan dalam berhubungan seks ? Ini merupakan suatu pertanyaan umum, sebenarnya semua posisi bercinta yang di maksud untuk mendatangkan kepuasan seks yang maksimal bagi para pelakunya. Posisi mana yang paling memuaskan, semua itu tergantung pada Anda yang melakukannya.
Banyak pria yang lebih menyukai pasangannya berada di atas, namun, para wanita kebanyakan lebih suka berada dibawah. Mereka bilang berbaling di ranjang lebih santai dan bebas menatap wajah pria yang dicintai, juga kenimaktan pendahuluan. Apalagi tanpa harus banyak usaha ( keluar tenaga ), kepuasan seks bisa tercapai.
Untuk para wanita, bila posisinya dibawah membuat mereka ;
Bisa dengan bebas memandang pasangannya. Wanita juga bisa melihat ekspresi wajah pasangan, dan merasa sangat dicintai bila ekspresinya tercapai.
Memberi rasa feminin dan erotis, dengan rambut yang terurai di bantal.Posisi ini sangat indah secara estetika, sebab wanita tidak perlu merasa malu akan tubuhnya ( karena ketutupan tubuh pasangannya ).
Beberapa wanita mengatakan bahwa posisi di bawah membuat mereka lebih mudah mencapai orgasme kerena merasa lebih nikmat.
Variasi lainnya dalam rangka menemukan kepuasan berhubungan seks. Misalnya pada posisi misionaris ini, wanita bisa menaruh 1 atau 2 bantal di bawah pinggulnya, mencondongkan tulang panggul agar terjadi penetrasi lebih dalam, maka akan terasa suatu ……
Juga bisa dengan kedua kaki direntangkan lebih lebar, melingkari pinggang atau bahu pasangan.
Posisi yang lain merupakan posisi menahan busur, ini adalah posisi spesifik yang sangat mudah dilakukan, posisi ini memiliki ciri gerakan yang khusus, yaitu ; Tumpuan tubuh wanita, kaki kanan diangkat dan kaki kiri lurus, paha dibuka sedikit agar lebar, lelaki melakukan penetrasi diatas.
Bila sang wanita cukup bugar, boleh juga mencoba variasi yang lain. Dengan cara menarik lutut ke arah dada, lalu rentangkan sedemikian rupa sampai sang pria bisa berada di antara mereka. Dengan posisi betis berada di sisi punggung sang pria, paha Anda menahan tubuhnya, dengan posisi ini keuntungannya dapat memberikan Anda keleluasaan untuk mengendalikan permainan, menahan berat tubuh sang pria, orgasme pun akan lebih mudah tercapai.
Tetapi, yang perlu Anda perhatikan adalah, bagaimana pun posisinya, kunci permainannya adalah aliran adrenalin. Artinya, bila Anda merasa denyut nadi bertambah cepat, peluh mulai keluar, dan adrenali mengalir lebih deras, barulah seks akan memuaskan Anda. Bila pasangan menganggap seks hanya rutinitas, posisi apa pun tak akan dapat memuaskan. Jadi pertahankan aliran deras adrenalin itu dengan menyuruh pikiran Anda tenang.
Sebenarnya saat berhubungan seks tidak terpaku pada posisi sebab pada akhirnya akan ditentukan oleh situasi dan kondisi, situasi dan kondisi ini yang tepat akan membangkitkan romantisme yang hangat, hingga membawa Anda sampai ke puncak orgasme.

Wanita Bisa Mencapai Multi Orgasme
Puncak kenikmatan behubungan seks yang dirasakan oleh wanita di sebut orgasme. Sulit untuk menggambarkan dengan kata-kata bagaimana rasanya orgasme itu. Orgasme yang dirasa dengan gesekan alat kelamin pria pada dinding vagina yang penuh saraf perasa, dan kenikmatan itu makin lama makin terasa nikmat hingga mencapai puncaknya yang dimana disebut orgasme. Ketika orgasme berlangsung seluruh tubunya terasa menggigil, cengkeraman vagina pada penis semakin kuat dan disertai gerakan mendekap tubuh pasangannya yang seperti menghimpit.

Namun, sayang sekali tidak semua wanita dapat menikmati orgasme. Kebanyakan wanita melakukan hubungan seks hanya untuk melakukan kewajiban sebagai istri, ataupun hanya untuk memuaskan sang suaminya, sementara dia sendiri tidak merasakan kenikmatan apa-apa. Padahal, dalam berhubungan seks seharusnya dapat dinikmati keduanya. Karena hubungan seks dilakukan berdua, maka orgasme pun harus dirasakan bersama.

Bila pria dapat mencapai multi orgasme, kenapa wanita tidak ? Apalagi, kunci untuk wanita mencapai multi orgasme sangat mudah. Bahkan sama mudahnya mencapai orgasme berkali-kali hingga kadang pun tanpa dengan bantuan pasangannya.

Tidak sulit untuk mencapai orgasme, begitu juga yang kedua kali, ketiga atau keempat. Syaratnya, Anda terbuka dengan keinginan untuk mendapatkan sensasi yang luar biasa itu, dan kami membantu Anda, dengan beberapa kunci dibawah ini :
Anda tentu tak dapat hanya menggunakan satu cara untuk mencapai klimaks, karena klitoris merupakan daerah yang sangat sensitive. Itulah sebabnya terkadang Anda merasa sakit apabila pasangan Anda memainkan jarinya terlalu lama atau bila Anda telah mencapai orgasme.
Salah satu penyebab sulitnya pencapaian orgasme adalah kurangnya lubrikasi pada daerah yang paling sensitive itu. Terkadang di dalam liang vagina tak dapat menghasilkan jumlah cairan yang dibutuhkan. Maka pada saat inilah Anda memerlukan bantuan dengan lubrikasi ekstra, baik dengan menggunakan jeli khusus ataupun dengan saliva. Oleskan jeli dengan gerakan lembut hingga Anda dapat merasakan sensasinya. Maka bila pasangan Anda memainkan daerah vagina Anda dengan jarinya, Anda tidak akan merasa sakit, bahkan dapat merasakan kenikmatan yang ekstra.
Mungkin Anda pun telah mengetahui G-spot terletak di dinding bagian depan vagina Anda. Bila Anda merabanya dengan jari maka dapat merasakan bagian kecil yang lunak seperti spons. Anda dapat arahkan jari pasangan Anda menuju bagian tersebut dan memulai dengan gerakan maju mundur yang halus. Gerakan ini akan membuat Anda serasa berada diawang-awang. Bila dia melakukan saat Anda mencapai puncak, maka Anda dapat memperoleh multi orgasme. Atau sebagai selingan, Anda bisa memintanya untuk bergerak kearah klitoris dan kembali lagi ke arah G-spot sebelum melakukan penetrasi.
Satu hal yang selalu menghalangi tercapainya orgasme adalah ketidak mampuan untuk bisa rileks. Bila Anda sedang mengalami ketegangan tentu saja kenikmatan tak akan tercapai. Anda dapat mencoba menghilangkan ketegangan ini dengan berbagai cara, Mungkin Anda dapat meminta pasangan untuk melakukan pijatan sensual sehingga otot-otot rileks, Anda pun dapat merasakan timbulnya gairah. Atau pun meminta pasangan untuk memeluk, membelai, dan
mencium seperti pasangan yang sedang berpacaran. Bila suasana romantis ini telah tercapai, maka tidak sulit untuk meningkatkannya menjadi suasana yang menggairahkan, maka Anda pun akan mencapai puncak kenikmatan yang spektakuler.
Organ paling sensitive yang dapat menimbulkan orgasme adalah vagina. maka otot-otot didalam vagina harus dilatih agar dapat memberikan orgasme yang berulang-ulang. Cara melatih vagina adalah dengan menguncupkannya selama dua detik lalu lepaskan lagi. Bila kesulitan melakukannya maka dapat dengan cara latihan kencing sedikit demi sedikit, dalam arti keluarkan air kencing sedikit, kemudian ditahan, keluarkan lagi dan tahan lagi. Demikian seterusnya hingga otot-otot vagina menjadi terlatih.

Wanita yang sudah dirangsang dalam permainan awal sebelum sanggama berlangsung, umumnya mulai merasakan kenikmatan begitu liang vagina disusupi batang penis pasangannya. Dengan demikian dalam waktu yang singkat kemungkinan ia akan segera orgasme. Bila terjadinya orgasme, maka Anda harus menundanya secara meminta pasangan menghentikan gerakan mendorongnya. Dengan beristirahat sejenak maka emosinya akan kembali datar.
Tujuannya adalah agar wanita dapat mencapai multi orgasme. Apalagi jika Anda memadukannya dengan sensasi G-spot. multi orgasme dapat dengan mudah Anda rasakan.

Resep Coto Makassar

Menyebut nama Makassar, yang teringat pasti masakan tang satu ini “Coto Makassar”, makanan Khas Kota Anging Mamiri.

Berikut ini ada satu resep dasar memasak coto Makassar. Anda bisa juga memvariasikannya sesuai dengan selera anda. Selamat Mencoba.

Coto Makassar (porsi 8 orang)

Bahan:

500 gram daging sapi, bagian sengkel (yang empuk itu, bilang aja ama abang2 di pasar, pasti pada tau..)
500 gram babat, rebus matang
300 gram hati sapi, rebus matang
200 gram jantung sapi, rebus matang


5 batang serai memarkan


4 sm lengkuas memarkan


2 cm jahe memarkan


5 lembar daun salam


250 gram kacang tanah, goreng haluskan
2,5 liter air cuci beras/tajin
1 sdm bumbu kaldu bubuk rasa sapi
6 sdm minyak sayur

Haluskan :
10 siung bawang putih

8 butir kemiri sangrai

1 sdm ketumbar sangrai

1 sdt jintan sangrai

1 sdt garam dan 1 sdt merica butiran

Pelengkap:
bawang goreng
irisan daun bawang
irisan seledri

Sambal tauco:
- Haluskan 10 buah bawang merah, 5 siung bawang putih, 10 buah cabai
keriting yang direbus sebentar.
- 100 gram tauco yang ditumis dengan 6 sdm minyak goreng hingga
matang, tambah garam dan gula merah secukupnya. Campur sama
bahan yang udah dihaluskan barusan.

Cara membuat:
1. Kalo pake babat atau hati, rebus terpisah hingga lunak, angkat,
tiriskan, potong dadu.
2. Rebus daging sapi bersama air tajin, serai, lengkuas, jahe, dan daun
salam. Setelah matang angkat, tiriskan, potong dadu.
3. Panasin minyak, tumis bumbu yang dihaluskan hingga harum,
masukkan ke dalam kaldu,tambahkan kacang tanah goreng, didihkan.

Penyajian:
Siapkan mangkuk, isi dengan daging dan ati dan babat dan juga paru yg dari toples tadi. Taburi bawang goreng (enaknya banyak2), irisan daun bawang dan seledri, sajikan dengan ketupat dan sambal taoco.

Sajikan hangat.

PS: Tambahin kecap, garam, dan jeruk nipis jika perlu.

Coto Makassar

Coto Makassar atau Coto Mangkasara merupakan makanan tradisional Makassar, Sulawesi Selatan. Makanan ini dibuat dari jeroan (isi perut) sapi yang direbus dalam waktu yang lama atau daging maupun hati.

Rebusan jeroan bercampur daging sapi ini kemudian diiris-iris lalu dibumbui dengan bumbu yang diracik secara khusus. Coto dihidangkan dalam mangkuk dan dimakan dengan ketupat, buras maupun nasi putih.

Saat ini Coto Makassar sudah menyebar ke berbagai daerah di Indonesia, mulai di warung pinggir jalan hingga restoran. Bahkan Coto Makassar telah menjadi salah satu menu pada penerbangan domestik Garuda Indonesia dari dan ke Makassar.

Coto Makassar memiliki banyak jenis ataupun ciri khas, tergantung pengasuhnya. Hampir setiap warung coto dilengkapi dengan nama pengasuhnya. Dan setiap watung coto memiliki siri khas tersendiri. sehingga aroma dan rasanya agak berbeda antara warung yang satu dengan yang lainnya.

Tataboga yang sangat tinggi
walaupun tergolong sebagai makanan rakyat biasa hidangan Coto Makassar, tergolong sebagai hidangan yang memiliki latar belakang seni ketata bogaan yang sangat tinggi. Umumnya suatu hidangan itu terangkat apabila tersaji dikalangan istana, seperti yang terjadi dalam sejarah tata boga di Eropa, yang dianggap sebagai pusat budaya ketata bogaan maupun di Cina yang telah memiliki peradaban yang tinggi jauh sebelum tariq Masehi.

Arus perdagangan yang terpusat di Somba Opu pada tahun 1538 dan berjayanya Bandar Makassar dari tahun 1556 hingga kini sangatlah berpengaruh pada pola kehidupan masyarakat. Demikian pula berpengaruh pada pola dan seni ketata bogaan, antara lain pada Coto Makassar.

Hal ini dapat dilihat bahwa pada penyajian hidangan coto Makassar, akan dibarengi dengan sambal tao-co yang merupakan bagian dari ketata bogaan Cina yang mempengaruhi budaya ketata bogaan Makassar.

Hidangan coto ini, yang dalam ketata-bogaan modern digolongkan sebagai hidangan sup, tidak berbeda jauh dengan sejarah sup di Eropah, yang mana “lahir” pada era sebelum revolusi industri di Inggris.

Di Eropa, orang memakan sup itu dengan roti sebagai pengganjal perut dimalam hari, yang kemudian dalam ilmu tata saji dikenal sebagai “supper” yang berasal dari kata soup. Sedangkan Coto Makassar diciptakan oleh rakyat jelata dan dimakan dengan ketupat atau buras oleh para pengawal dan mereka yang begadang, menikmati hidangan sup ini sebagai pengisi perut disubuh hari, sehingga aktivitas mereka dipagi hari akan dapat dilaksanakan dengan baik. .

Tertua di Nusantara
Coto Makassar “lahir” dalam kuali tanah yang disebut: korong butta atau uring butta dan dengan rampah patang pulo (40 macam rempah) antara lain terdiri dari :kacang, kemiri, cengkeh, pala, foeli, sere yang ditumbuk halus, lengkuas, merica, bawang merah, bawang putih, jintan, ketumbar merah, ketumbar putih, jahe, laos, daun jeruk purut, daun salam, daun kunyit, daun bawang, daun seldri, daun prei, lombok merah, lombok hijau, gula talla, asam, kayu manis, garam, papaya muda untuk melembutkan daging, dan kapur untuk membersihkan jerohan.

Cara mengelola coto Makassar ini merupakan bukti nyata bahwa seni ketata bogaan dari Sulawesi Selatan in sangatlah tinggi. Bumbu dan rempah yang begitu banyak tidak saja berfungsi sebagai penyedap hidangan ini, akan tetapi juga sebagai pengimbang dan penawar zat zat yang kurang baik yang terdapat dalam bahan yang dipergunakan seperti hati, babat, jantung, limpah dsb. yang sarat dengan cholesterol misalnya sehingga makanan ini menjadi sehat.

Kemungkinan besar, sop dari Makassar ini dibawa oleh para pelaut kedaerah tujuan pelayarannya ke Jawa dan Kalaimantan, sehingga tidaklah mengherankan apabila didaerah tersebut juga terdapat hidangan yang sejenis yang memperoleh nama yang mirip dengan dengan coto makassar a.l. soto seperti soto babat dari Madura, soto Tegal, soto Betawi, yang dibuat dari bahan dasar yang hampir sama dengan coto Makassar ini, namun dalam pengelolaannya sudah mempergunakan peralatan yang lebih “modern” yaitu “panci soto” yang khas. Dari bentuk panci ini juga merupakan suatu bukti bahwa coto Makassar itu “lebih tua” dari pada soto di persada Nusantara ini.

Jenis coto
Di Sulsel dikenal berbagai macam jenis coto selain coto makassar. tergantung jenis dagingnya. Coto Makassar umumnya menggunakan daging sapi. Didaerah Gowa dan Takalar serta daerah lain bisanya menggunakan daging kerbau. Dijeneponto menggunakan daging Kuda sehingga dikenal dengan coto kuda. Namun ada juga menggunakan daging kambing.

Warungnya Mudah ditemukan
Menemukan warung coto tidaklah sulit di kota Makassar. Di jalan besar, kawasan pertokoan, kawasan perumahan, pasar, bahkan di gang-gang kecil pun banyak warung yang menjajakan makanan khas kota daeng ini.

Warung coto Makassar, tidak hanya terdapat di kota Makassar saja, tetapi juga hampir di seluruh daerah Sulsel, bahkan di luar Sulsel, seperti di Jakarta, Surabaya, dan kota-kota lainnya di nusantara. Namun tetap saja bagi sebagian warga lokal yang pernah mencicipi coto di kota selain Makassar tetap merasa kurang berasa jika bukan orang asli Makassar yang memasaknya.

Makanan khas kota Anging Mammiri ini sangat dicintai oleh warga lokal sendiri. Bahkan banyak wisatawan ataupun pendatang mencari makanan ini. Ada juga istilah yang dikenal di kalangan warga lokal yang dapat merepresentasikan hal itu;. “Garring coto” . Dalam bahasa Makassar, kata garing berarti sakit . Nah, jika seseorang yang sedang ingin makan coto, mereka biasanya disebut “garing coto”.

Tulisan Sebelumnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.